Senin, 14 Juli 2014

Ahok: Susah Lawan Roh Penjajah Belanda


Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku, kesulitan terbesar saat ini adalah memberantas korupsi di Indonesia, terutama dalam pemerintahan. Saking sulitnya, bahkan menurut pria yang karib disapa Ahok itu, memberantas korupsi ini lebih sulit daripada ketika para pejuang melawan penjajah dulu.

"Kata Bung Karno, yang susah itu bukan melawab penjajah Belanda. Tapi bagaimana kita lawan roh-roh penjajah Belanda yang memasuki pejabat dengan korupsinya," kata Ahok dalam sambutannya di acara Penyerahan Pendayagunaan Zakat, Infaq, dan Shadaqah di Istora Senayan, Jakarta, Selasa (15/7/2014).

Menurut Ahok, seluruh ibadah yang dilakukan akan percuma apabila melakukan tindakan korupsi dalam bentuk apapun. Apalagi jika yang korup itu adalah pejabat pemerintahan. Karena mereka disumpah untuk melayani dan menyejahterakan warga.

Jika hal itu dilanggar dengan menyelewengkan uang rakyat, maka menurutnya sama saja dengan mengingkari ajaran agama.

"Saya ingat Perdana Menteri Belanda Abraham Kuyper bilang, kalau kita tidak perhatikan rakyat miskin berarti mengingkari firman Tuhan. Jadi masa sesama warga Jakarta tidak lakukan itu," ucapnya.

Pasalnya, lanjut dia, masih banyak warga DKI yang kekurangan. Terutama soal pendidikan. Menurut riset Bank Dunia, ada sebanyak 40% anak usia 16-18 tahun di Jakarta yang belum mampu mengenyam pendidikan karena masalah ekonomi.

Biaya sekolah saat ini mencapai Rp 600-Rp 800 ribu per bulan. Sedangkan, Kartu Jakarta Pintar (KJP) baru bisa membantu Rp 300 ribu per bulan.

"KJP rawan penyelewengan dan rawan melawan regulasi. Karena dana hibah kan hanya boleh 3 tahun atau 3 kali," ucap Ahok.

3 Bank Malaysia Merger, RI Siap Konsolidasikan Ratusan Bank




Pemerintah menanggapi positif rencana konsolidasi tiga bank Malaysia, yakni CIMB, RHB Capital dan Malaysia Building Society.
Dengan aksi tersebut, Indonesia akan mengikuti jejak penggabungan (merger) perbankan tersebut dalam jangka panjang.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Tanjung (CT) mengungkapkan, tren ke depan setiap negara pasti ingin memiliki perbankan dengan skala aset yang lebih besar. Salah satu cara paling mudah adalah melalui merger, seperti yang dilakukan tiga bank negeri tetangga.

"Apa yang dilakukan Malaysia lewat CIMB dengan dua institusi keuangan memang mengarah pada sebuah arsitektur perbankan yang besar. Ini sebenarnya tren global, bukan saja di Malaysia, tapi sudah dilakukan di Amerika, Eropa dan sekarang di Asia," paparnya sebelum Rapat Komite Ekonomi Nasional di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Selasa (15/7/2014).

Menurut dia, Indonesia masih memiliki kesempatan untuk melakukan hal yang sama, mengingat ada ratusan perbankan di Indonesia namun masih berskala kecil.
CT juga mengaku, negara ini tak perlu cemas apabila Malaysia mengambil langkah lebih cepat dalam konsolidasi perbankan.

"Kita nggak ketinggalan dengan mereka kok, nggak usah khawatir. Indonesia pun akan menuju ke arah sana karena ada lebih dari 100 bank di sini tapi sizing-nya kecil-kecil. Dan jumlah itu terlalu banyak," jelas dia.

Meski belum tahu akan dikerucutkan menjadi berapa bank, namun CT mengatakan merger merupakan sesuatu yang tak bisa dipaksakan. Dengan peleburan atau konsolidasi perbankan, maka akan terjadi efisiensi dan peningkatan produktifitas.

"Saya belum tahu idealnya berapa jumlah bank, tapi sesuatu bank harus merasa dirinya perlu untuk masuk menjadi bagian dari kelompok yang besar itu. Jadi persentase saham mengecil, tapi kecil dari bagian yang besar itu lebih besar daripada besar dari bagian kecil. Akibatnya ada nilai tambah saham bagi pemilik bank itu," ujar dia.

Konsolidasi perbankan di Indonesia, tambahnya, perlu dilakukan secara bertahap dan apa adanya, di samping upaya pemerintah untuk terus mendorong iklim usaha yang baik kepada para pemilik bank.

Ini berjalan nature, karena bank dengan sizing yang besar sangat dibutuhkan. Jumlahnya biar lebih sedikit, tapi bank-nya besar-besar sehingga bisa bersaing dengan perbankan dalam maupun luar negeri.

Minggu, 06 November 2011

Ayah Perokok Harus Hati-hati kalau Gendong Anak

Penasehat Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Hakim Sorimuda Pohan, mengingatkan para ayah perokok agar berhati-hati ketika menggendong anaknya. Apalagi, anaknya yang masih berusia balita. Secara tidak sengaja, sang ayah bisa menularkan penyakit pada anak.
Ia menyebutkan kini ada tiga jenis perokok yang ada. “First hand smoker, second hand smoker dan third hand smoker,” kata Hakim di Jakarta, Rabu (2/11).
Soal perokok aktif dan pasif, menurutnya, itu sudah ‘pustaka’ lama. First hand smoker adalah perokok pertama. Orang ini merokok sehingga memasukkan sendiri racun ke dalam tubuhnya.
Second hand smoker merupakan orang yang menghirup asap rokok. Yang mungkin jarang disadari yakni third hand smoker. Mereka ialah orang yang tidak merokok, tidak menghirup asap rokok tetapi berhubungan langsung dengan perokok. Baginya, ketiga jenis perokok ini memiliki akibat yang sama saja bahayanya.
Ia mencontohkan seorang ayah yang biasa merokok di kantor, ketika pulang langsung menggendong anaknya tanpa terlebih dahulu ganti baju atau cuci muka. Tanpa disadari, ayah tersebut telah menjadikan si anak sebagai third hand smoker.
“Ayah merokok di kantor, pulang tanpa berwudhu, cium si anak. Niatnya si mau sayang, tapi secara tidak sengaja ia malah memberikan racun pada anak,” ujar dia.
Ia menjelaskan, sisa-sisa nikotin bisa saja masih menempel di wajah atau baju ayah. Racun itu akan menguap dan terhirup melalui udara. “Ya seperti orang yang merokok kan nafasnya juga bau rokok,” katanya.
Jika kebetulan si anak mempunyai penyakit bawaan asma, dengan udara yang kotor, maka asma akan sulit disembuhkan. “Jadi kalau anak asma dan nggak sembuh-sembuh, cek saja siapa yang bawa racun ke rumah,” ujarnya sambil tersenyum.